NASKAH KUNO


To Journey : Eksistensi Naskah Kuno Sebagai Jati Diri Kebudayaan  Pada Era Millennial



Oleh : ERMA SURRYANI
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     
Assalamu’alaikum  warrahmatullahi  wabaratu.

        Teman – teman pasti berpikir kenapa saya mengambil judul ini, sebenarnya ada relasi yang sangat kuat antara naskah kuno ini dengan jati diri suatu daerah, kekentalan suatu  budaya  dan tradisi maupun kepercayaan mistis yang dibangun melalui naskah-naskah ini sebagai peninggalan sejarah ,ini bukan sekedar naskah biasa, namun ini adalah sebuah kepercayaan suatu daerah yang diwarisi turun temurun. Pada era ini khususnya kaum millennial beranggapan bahwa mempelajari naskah-naskah kuno adalah sebuah keterbelakangan peradaban, namun saya katakan itu adalah salah besar, mengapa ? karena di naskah kuno itu terdapat sejarah, unsur aqidah , kebudayaan , kesenian, do’a untuk obat atau penyembuh dan penawar sakit,  dan dapat dikatakan sebagai disiplin ilmu yang kompleks juga , seperti filsafat, arkeologi, perbintangan dan lain sabagainnya. Pada era millenial kita kehilangan jati diri daerah masing-masing. Indonesia bersatu bukan karena sama, tapi keberagaman budaya dan suku yang menjadi satu, seperti symbol kita BHINEKA TUNGGAL IKA, jika kita melebur dalam perkembangan zaman yang semakin kehilangan jati dirinya maka Indonesia bukan lagi keberagaman yang menjadi satu, namun satu yang menjadi satu. Sebagai regenerasi peradaban kita harus menyadari  bahwa betapa urgennya mempelajari naskah kuno milik daerah kita masing-masing.agar kita tidak melebur bersama perkembangan zaman modernisasi atau globalisasi yang semakin kehilangan jatri dirinya. Nah salah satu cara melestarikan peninggalan sejarah khususnya naskah kuno maka dari itu saya bersama rekan-rekan mencari  keberadaan naskah kuno tersebut di daerah Bayan khususnya desa Tegal Maja di KLU ( Kabupaten Lombok Utara ) . Pada tanggal 21/10/2019 kami jelajahi dari mataram menuju KLU dengan semangat kami jelajahi daerah itu , bukan untuk menaklukan tapi untuk menumbuhkan semangat dalam  mengetahui naskah kuno milik pulau Lombok suku Sasak dan untuk memperkanalkan berbagai macam peninggalan sejarah khususnya naskah kuno kepada kalian dan merupakan pengalaman yang mengesankan dan akan selalu saya kenang  dalam memori saya.

          Pada saat diperjalanan menuju lokasi kami melewati jalur PUSUK, nah untuk melewti jalur ini dari Mataram harus lewati jalur Gunung Sari.  Pada saat di perjalanan banyak sekali yang membuat saya tertantangi mulai dari kondisi cuaca yang panas sekitar  32 derajat celcius , sampai air mata saya keluar dengan sendirinya dan kepala saya sakit sekali, bukannya tidak memakai helm melainkan saya tidak suka menurunkan kaca pelindungnya, lalu tantangan kedua yaitu udara di sana banyak debu Karena bekas reruntuhan  gempa tempo lalu, bukannya juga tidak memakai masker juga tapi saya tidak suka baunya seperti  bau bis because saya mabuk darat dan teringat  suasana saat saya muntah di bis,  nah itu adalah kondisi fisik saya pada saat di perjalanan. Nah kita kembali ke jalur pusuk, jalur pusuk ial;ah seperti mendaki gunung full,  ada tanjakan, menuju puncak, puncak gunung dan turun gunung, seperti itulah analogi saya ketika melewati jalur itu, Nah jalur pusuk pun memilikin tantangan tersendiri yang menguji adrenalin saya. Petama, jalur ini sangat dipadati oleh berbagai kendaraan mulai dari motor, mobil, mini bus, bahkan truk besar, kedua, jalurnya berliku dan setapak, ketiga, banyak jurang dan sering terjadi longsor, terlepas dari itu udaranya yang segar, dan ada wisata air terjun, dan banyak monyet tentunya. Tapi peringataan juga nih buat pembaca agar berhati-hati jika selvi dekat monyet takutnya hp anda diambil dan juga peringatan sering terjadi longsor. Setelah melewati jalur itu beberapa kilo sampailah kami di kediaman Amak Sekenep yang berumur 80 tahun seorang pegiat naskah kuno yang berjudul TAPAK ADAM ( perjalanan Adam di muka Bumi ) naskah ini digunakan pada acara sakral saja seperti cukur rambut dan sering diminta sarana untuk memiliki anak, bagi sepasang suami istri yangt sulit memiliki anak mereka mendatangi Amak Sekenep untuk dimintai untuk dipermudah mendapat anak lewat naskah kuno tersebut, ini adalah kepercayaan masyarakat setempat, dan ada perlakuan khusus terhadap naskah ini jika meminta asnak ialah dengan disirami air yang berisi bunga lalu air yang turun itu di minum oleh peminta anak. Setelah banyak berbincang dengan narasumber kami pamitr pulang. Nah jika kita review pengalaman dari jalur tadi ,otomatis kami  ngk mau dong ngelewatin jalur itu lagi, jadi buat pembaca yang takut lewatin jalur itu dan mau suasana baru  kita punya jalur lain nih, yaitu lewat jalur senggigi, nah di sana juga kita bisa liat pemandangn laut yang begitu indah bisa dilihat cuplikan fotonya aku yah.

          Sekian dulu yah cerita pengalaman aku dalam mencari keberadaan naskah di era kita sekarang, 
Lebih dan kurangnya penulis memohon maaf, dan jangan lupa dilike, comment,share dan subscribe. Uuuupppps inikan bukan channel youtube. Okey cukup dilike dan dikomen yah.
Terimakasih
Wassalamu’alikum warrahmatullahi Wabarakatu.

Komentar

  1. Pengalaman yang seru kayaknya, kapan2 lewat jalur senggigi:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyah @fitrianingsih_99
      jauh juga klw lewat pusuk lagi

      Hapus
  2. Woww amazing pengalaman yg taj terhingga

    BalasHapus
  3. Terimakasih telah berbagi, sangat bermanfaat untuk anak muda dan kaum milenial Zaman sekarang��

    BalasHapus
  4. Luar biasa sangat bermanfaat, saya suka cara anda mendeskripsikannya tetep semangat dan sukses selalu untuk penulis🌹💪

    BalasHapus
  5. Luar biasa dan saya salut kepda anda dan sangat bermanfaat bagi saya moga ada lagi tulisannya di tunggu.

    BalasHapus
  6. makasih teman2 atas tanggapannya, semoga bermanfaat

    BalasHapus
  7. Terima kasih, berkat artikel ini ilmu saya bertambah.

    BalasHapus
  8. Bagus er semoga tulisannya bisa berkembang👍😊

    BalasHapus
  9. Semangat terus untuk memuat tulisan2 yang mewariskan kekayaan budaya daerah supaya tetap terkenang dan tidak hanya ditelan zaman

    BalasHapus
  10. Terus eksplore kebudayaan yang tersimpan dalam gumi NTB

    BalasHapus

Posting Komentar